CERPEN (Dokter Kolong Jembatan)
Aisyah Savira Pratiwi namanya, seorang dokter yang menitih karirnya dari nol. Dulunya ia tinggal di sebuah pemukiman kumuh, tepatnya di salah satu kolong jembatan di DKI Jakarta bersama ayah, ibu, dan adik laki-lakinya yang bernama Dika. Ketika semua temannya asyik bercanda dan bermain sepulang sekolah, justru Aisyah harus membantu pekerjaan orang tuanya dengan menjual gorengan. Dengan semangat ia melangkahkan kaki kecilnya menawarkan dagangannya kepada semua orang yang ia temui.
“ Gorengannya pak, buk…”. Begitulah kurang lebih kalimat yang sering diteriakkan Aisyah ketika menawarkan dagangannya. Aisyah mulai menjual gorengan sejak ia kelas 5 SD. Tidak jarang Aisyah pun mendapat ledekan bahkan hujatan dari teman-temannya ketika menjual gorengan, namun ia tidak pernah tersinggung ataupun malu sebagai seorang penjual gorengan. “Kenapa harus malu aku menjua. gorengan untuk membantu orang tuaku, lagi pula ini pekerjaan yang halal.” Begitulah tekad Aisyah yang ia tanamkan dalam hatinya.
Saat hari minggu datang, pagi-pagi sekali ketika langit masih gelap dan matahari belum menyingsing.
‘ Bangun Aisyah, bangun anakku,” kata ibu Aisyah
‘ Dika bangun nak,”
Ketika mendengar suara ibunya, Aisyah segera membuka matanya dan mengusap mata sambil berkata “Iya bu, ini Aisyah bangun kok”. Setelah itu, ia juga membangunkan adiknya yang tertidur pulas di sampingnya.
Mereka pun bergegas ke belakang rumah dan mencuci pakaian kotor yang ada. Dengan semangat mereka mencuci baju tersebut. Mereka juga kerap bermain gelembung dari sabun cuci itu, dengan senang dan gembiranya mereka menebarkan tawa dan senyuman seakan menyambut pagi yang cerah saat itu dengan melempar gelembung-gelembung sabun tadi, dan tak heran baju mereka pun sering basah setelah mencuci baju. Saat itu pula mereka kerap berbincang ataupun bergurau tentang suatu hal.
Keluarga Aisyah merupakan keluarga yang kurang mampu, karena itu Aisyah sering mendapat tagihan SPP dari pihak sekolah. Salah satunya ketika Aisyah duduk dibangku kelas 6 SD. Ia mendapat surat edaran dari sekolah agar segera melunasi tagihan tiga bulan terakhir, dan jika tagihan itu tidak segera dilunasi maka Aisyah terancam tidak dapat mengikuti ujian. Hal tersebut membuat Aisyah sedih dan merasa bingung harus berbuat apa karena ia juga tau perekonomian keluarganya saat itu sangat buruk. Ayah Aisyah yang hanya seorang tukang becak dan ibunya hanya seorang penjual gorengan membuat sejumlah kebutuhan tidak dapat terpenuhi.
Sepulang sekolah setelah melepas seragamnya dengan berat hati Aisyah memberikan surat edaran tadi kepada ibunya.
“Bu ini ada surat dari sekolah”
“Surat apa ini nak?” tanya ibu Aisyah
“Itu surat tagihan SPP tiga bulan terakhir bu yang belum dilunasi dan jika tidak segera dilunasi Aisyah tidak bisa ikut ujian.” jawab Aisyah
“Maaf Aisyah” kata ibu, “dalam waktu dekat ini ibu belum bisa menunasi pembayaran ini karena ibu dan ayah belum punya uang nak.”
Karena memikirkan tentang pembayaran tersebut, Aisyah selalu melamun dan tidak fokus ketika pembelajaran di kelas. Pada saat itu Bu Retno, guru IPA sedang menjelaskan materi di kelas, namun Aisyah tampak melamun dan tidak memerhatikan materi yang disampaikan Bu Retno. Hal tersebut diketahui Bu Retno dan beliau merasa heran karena selama ini Aisyah tidak pernah seperti itu. Aisyah selalu memerhatikan pelajaran di kelas serta aktif di dalam kelas, Aisyah juga dikenal sebagai siswa yang notabennya pintar di sekolah itu.
Dan pada akhirnya, Bu Retno memutuskan untuk menanyai Aisyah pada akhir jam pelajaran ketika kelas sudah sepi dan semua siswa sudah pulang.
Sambil mendekati Aisyah Bu Retno bertanya, “Apa yang terjadi Aisyah dari tadi kamu terlihat murung?”
“Hehe tidak bu, saya tidak apa apa” jawab Aisyah.
“Sudahlah tidak perlu berbohong, ibu tahu kok pasti ada suatu masalah yang membuatmu seperti ini. Jujur saya Aisyah mungkin ibu bisa membantu.”
“Iya bu, jujur saya punya masalah, sudah tiga bulan saya belum membayar SPP sekolah, dan orang tua saya belum bisa membayarnya karena belum punya uang bu. Kemudian jika saya tidak segera melunasinya, saya terancam tidak bisa mengikuti ujian.” begitulah penjelasan Aisyah.
“Oh jadi itu masalahnya, sabar ya Aisyah semoga orang tuamu segera mendapatkan rezeki.”
“Iya bu Amin…”
“Kalau boleh ibu mau membantu kamu, ibu ingin membayar SPP tiga bulanmu itu.”
“Hmmm, terima kasih bu atas tawarannya, tapi saya tidak ingin merepotkan ibu.”
“Tidak nak, kamu tidak merepotkan, justru ibu ingin membantumu selagi ibu bisa membantu. Namun ibu minta agar kamu lebih giat lagi belajarnya demi mencapai semua keinginan dan cita-citamu.”
Dengan hati senang dan wajah gembira, “Terima kasih ibu begitu baik, sekali lagi terima kasih, saya berjanji akan lebih giat lagi untuk mencapai semua impian saya.”
“Baiklah, buktikan ucapanmu itu nak!”
Setelah Bu Retno membiayai SPP Aisyah selama tiga bulan yang belum dilunasi, Aisyah pun semakin giat belajar dan tak lupa membantu pekerjaan orang tuanya dengan menjual gorengan dengan giat dan semangat. Dan pada akhirnya, Aisyah lulus Sekolah Dasar dengan nilai yang cukup memuaskan. Kemudian ia melanjutkan sekolah di salah satu SMP Negeri di Jakarta. Saat itu Aisyah mulai menetapkan cita-citanya yaitu menjadi seorang dokter dan ia pun menyampaikan hal tersebut kepada orang tuanya.
“Ayah, ibu” panggil Aisyah, “boleh nggak Aisyah jagi dokter?”
Sambil tertegun ayah berkata, “Mengapa Aisyah ingin jadi dokter?”
“Aisyah ingin mengobati orang sakit yah, apalagi di pemukiman ini banyak orang sakit karena kelaparan dan lingkungan yang kotor.”
“Ayah sangat menghargai cita-citamu Aisyah, tapi kita juga harus sadar bagaimana kondisi keluarga kita, kita makan saja susah apalagi harus membiayai sekolahmu di bidang kedokteran. Ayah rasa, ayah dan ibu tidak mampu nak jika membiayai sekolahmu di bidang kedokteran.”
“Tapi Aisyah sangat ingin jadi dokter yah, lagi pula kalau Aisyah belajarnya sungguh-sungguh mungkin Aisyah bisa dapat beasiswa dan nantinya ayah dan ibu tidak perlu mengeluarkan uang untuk membiayai pendidikan Aisyah.” begitulah penjelasan Aisyah pada ayahnya.
“Baiklah nak” kata ibu, “kalau memang itu tekadmu ayah dan ibu selalu mendukung. Tugasmu sekarang adalah belajar dengan giat dan sungguh-sungguh agar mendapat beasiswa dan cita-citamu dapat tercapai.”
Dengan semangat dan perasaan bahagianya, Aisyah bertekad untuk membuktikan kepada orang tuanya bahwa ia bisa menjadi dokter. Aisyah sering diikutkan lomba oleh pihak sekolah karena ia mampu menjaga prestasinya. Namun berkali-kali Aisyah gagal dalam lomba yang ia ikuti. Pada suatu kesempatan, ia ditunjuk atau dipilih oleh pihak sekolah untuk mengikuti lomba Olimpiade IPA. Saat itu Aisyah sedang duduk di bangku kelas tiga SMP, ia sangat bersemangat mengikuti lomba tersebut.
Aisyah selalu bangun tengah malam untuk sholat malam dan kemudian memelajari materi untuk persiapan lomba tersebut. Ketika pulang berjualan gorengan pun ia kembali belajar. Hal tersebut ia lakukan sampai hari H lomba agar Aisyah dapat melakukan yang terbaik dan membanggakan orang tua serta sekolahnya. Aisyah pun rela menahan rasa lelahnya dan merelakan waktu istirahatnya demi memelajari materi olimpiade tersebut. Aisyah juga tidak lupa untuk berdoa di setiap sholatnya agar dijadikan pemenang dalam lomba itu.
Hari yang ditunggu Aisyah pun tiba, hari dimana ia mengikuti lomba Olimpiade IPA dan menunjukkan kemampuan terbaiknya. Pagi-pagi sekali ia bangun dan bergegas sholat shubuh, ia juga berdoa agar diberi kelancaran dan dimudahkan semuanya. Setelah itu Aisyah kembali membuka bukunya selama beberapa menit untuk pemantapan pengetahuannya. Ia bergegas mandi, sarapan, dan bersiap- siap berangkat sekolah. Tidak lupa sebelum berangkat, ia meminta doa kepada orang tuanya kemudian mencium tangan kedua orang tuanya. Dengan mengenakan segaram biru putih, dengan semangatnya Aisyah melangkahkan kakinya menuju sekolah. Sesampainya di sekolah, Aisyah pergi bersama seorang guru pendamping menuju tempat lomba tersebut.
Ketika Aisyah sudah menyelesaikan soal olimpiade, ia semakin gugup dan cemas menunggu pengumuman siapakah yang menjadi pemenang. Dengan perasaan cemas itu Aisyah berusaha tetap tenang dan selalu berdoa agar menjadi pemenangnya. Saat yang ditunggu pun tiba, seorang juri maju dengan membawa nama-nama pemenang lomba itu. Pada akhirnya juri membaca saru per satu nama pemenang, namun sayang nama Aisyah tidak disebutkan oleh juri.
Hal tersebut membuat Aisyah cukup kecewa, saat itulah ia merasa tuhan tidak adil kepadanya karena usaha kerasnya selama ini masih belum membuahkan hasil yang memuaskan dan tetap berakhir dengan sebuah kekalahan. Dengan lembut dan lapang dada, guru pendamping memberikan motivasi kepada Aisyah agar tidak berkecil hati, “Mungkin waktumu untuk jadi pemenang bukan sekarang Aisyah, percayalah akan ada waktunya dimana kamu menjadi seorang bintang dan seorang pemenang.” Mendengar motivasi dari gurunya, Aisyah akhirnya tidak putus asa dan selalu bertekad agar cita-citanya menjadi dokter dapat tercapai.
Dua tahun kemudian, Aisyah sudah duduk di bangku kelas dua SMA. Saat itu ia masih menjadi pelajar yang cukup pintar. Suatu ketika Aisyah mendapat kesempatan untuk kembali mengikuti lomba Olimpiade IPA dan mewakili sekolahnya di tingkat nasional. Mendengar kenyataan tersebut, bukan hanya bahagia yang ia rasakan, namun rasa tidak percaya bahwa dirinya yang dipilih dan dipercaya oleh pihak sekolah untuk mengikuti lomba tersebut. “Aku harus legih giat belajar agar menjadi pemenang dan dapat membanggakan orang tua, serta sekolahku.” begitulah tekad Aisyah saat itu.
Setiap hari Aisyah selalu belajar dan berdoa agar menjadi pemenang dalam kesempatan lomba kali ini. Pada akhirnya usaha dan doanya itu tidak sia-sia. Aisyah dinyatakan sebagai Juara 1 Lomba Olimpiade IPA Tingkat Nasional. Aisyah berserta orang tua dan para gurunya pun sangat senang. Aisyah tidak menyangka bahwa dirinya lah yang menjadi pemenangnya. Berkat prestasinya itu, Aisyah mendapat beasiswa untuk kuliah di jurusan kedokteran di salah satu Universitas. Aisyah pun menerima beasiswa tersebut dan selalu berusaha mengejar cita-citanya menjadi seorang dokter.Beberapa tahun kemudian, ia telah menyelesaikan skripsinya dan ia akan segera wisuda. Selain merasa bahagia, rasa sedih juga ada pada diri Aisyah karena ayahnya sedang sakit keras dan dirawat di sebuah rumah sakit.
Akhirnya Aisyah wisuda hanya ditemani ibu dan adiknya. Begitu berat perasaan Aisyah saat itu karena ia harus menjalani wisuda tanpa kehadiran sang ayah. Sepulang dari wisuda, Aisyah bersama ibu dan adiknya bersegas ke rumah sakit untuk melihat kondisi ayahnya. Saat itu ayah Aisyah sedang tidur di ranjang rumah sakit dengan kondisi yang semakin memburuk.
Aisyah bersama ibu dan adiknya tidak kuat membendung air mata setelah melihat kondisi sayng ayah yang seperti itu. Kemudian Aisyah mendekati telinga ayahnya dan berkata pelan, “Ayah, sekarang Aisyah sudah jadi dokter.” Mendengar bisikan Aisyah tersebut, membuat ayah seketika bangun dan menangis bahagia melihat anaknya yang masih mengenakan baju toga dan benar-benar menjadi dokter. Saat itulah ayah memegang tangan Aisyah dan sambil terisak mengatakan, “Kamu sudah membanggakan ayah nak, teruskan karirmu agar berguna untuk semua orang.” Setelah mengucapkan kalimat tersebut, kondisi ayah semakin memburuk dan pada akhirnya ayah Aisyah menghembuskan nafas terakhirnya karena sudah tidak kuat menahan rasa sakit yang disebabkan penyakit diabetes yang dideritanya.
Melihat kenyataan bahwa ayahnya telah meninggal dunia, membuat Aisyah sangat terpukul dan bersedih. Ia tidak menyangka ayahnya akan meninggalkannya secepat itu dan ketika dirinya sudah menjadi orang sukses. Namun di sisi lain Aisyah ingin mewujudkan pesan terakhir ayahnya untuk menjadi dokter yang berguna bagi semua orang. Setelah menjadi dokter, kehidupan Aisyah beserta ibu dan adiknya cukup terpenuhi. Mereka tidak lagi tinggal di pemukiman kumuh kolong jembatan, namun mereka sudah tinggal di suatu rumah yang cukup nyaman. Saat itulah Aisyah mulai berusaha mewujudkan pesan almarhum Sang ayah dengan mendirikan sebuah rumah sakit yang memberikan pengobatan gratis pada masyarakat yang kurang mampu. Hal tersebut ia lakukan karena Aisyah pernah merasakan bagaimana hidup serba kekurangan dan ia ingin mengobati orang-orang miskin yang sakit tanpa memungut biaya sepeser pun.
Karir Aisyah semakin gemilang dan kini semua keinginannya dapat terpenuhi. Maka dari itu kita dapat meniru tekad dari sosok Aisyah Savira Pratiwi. Teruslah bermimpi dan mengejar cita-cita yang kita impikan dan janganlah merasa putus asa ketika impian kita belum terpenuhi, sebab suatu saat kita pasti dapat mewujudkan impian tersebut dengan usaha dan doa karena sesunggunya kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.

nice, lanjutkan bakatmu๐
BalasHapusSangat memotivasi kak ๐
BalasHapusSngat menginspirasi kak
BalasHapusTerimakasih kak smg memvotivasi yg lain
BalasHapusMemotivasi kak:") ditunggu cerpen lainnya yaa:")
BalasHapusBagus, memotivasi kak
BalasHapusGood!!
BalasHapusLanjutkan karyanya!!
Lanjut kak๐
BalasHapus๐๐
BalasHapus